Jul 12, 2010

Staf Khusus, Bawa Kasus Lima Desa ke Presiden


Riau Pos, Senin (12/7/2010).(cf1/riaupos)

PEKANBARU (RP) - Tiga orang staf khusus Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang membidangi pembangunan dan otonomi daerah, Senin (12/7), berkunjung ke redaksi Harian Pagi Riau Pos.

Salah satu agenda yang dibahas tentang seputar simpang siurnya status lima desa di perbatasan Kampar Rohul.

Tim yang dipimpin Velix Wanggai, Akuat Supriyanto serta Thanon Aria Dewangga tersebut, mengaku terkejut dengan tidak duduknya permasalahan lima desa tersebut, apalagi, bila dikaitkan dengan posisinya bukan sebagai desa baru dan rawan terhadap terjadinya konflik di tingkat masyarakat.

‘’Kami pikir masalah ini perlu mendapat prioritas, segera kami menyampaikan permasalahan ini kepada Presiden RI SBY ,’’ sebut Velix yang mengaku kalau staf khusus itu bukan pengambil kebijakan, melainkan sebagai fasilitator sekaligus mencari info dan melaporkannya kepada Presiden RI.

‘’Kalau urusannya seperti ini, sebenarnya sudah harus tuntas di tingkat Dirjen. Tetapi kalau ternyata masalah ini tidak tuntas sampai sekarang sesuai yang kami dengar saat ini, sepulang ke Jakarta masalah ini akan dijadikan sebagai laporan prioritas,’’ jelasnya serius.

Situasi yang terjadi di lima desa ini, sebut Velix, perlu diprioritaskan untuk menghilangkan keraguan dan kesalahpahaman di tingkat masyarakat.

Permasalahan lima desa itu, pertama sekali disampaikan oleh Wakil Pimpinan Umum Riau Pos, Herianto saat mempertanyakan ketegasan sikap pemerintah pusat khususnya Mendagri yang terkesan tidak konsisten.

‘’Saat hendak kampanye di Kampar, Dirjen bilang lima desa itu masuk Kampar, besok mau pilkada di Rohul, Dirjen bilang lagi masuk ke Rokan Hulu, ketidakjelasan sikap ini menyebabkan konflik di tingkat masyarakat, apakah Mendagri juga memikirkan hal tersebut?’’ tanya Herianto.

Hal tersebut juga dikuatkan oleh Pemimpin Redaksi Riau Pos, Raja Isyam Azwar yang meminta, agar staf khusus dapat menyuarakan hal-hal yang prioritas ini kepada Presiden juga kementerian terkait. ‘’Kami pesan khusus masalah ini, karena, kasihan masyarakat di tengah ketidakpastian. Kalau memang Dirjen sudah menetapkan, jangan lagi plin-plan,’’ sebut Isyam.

Terkait dengan rentannya terjadi konflik di tingkat masyarakat itu juga, sebut Raja Isyam, Riau Pos sebagai koran terbesar dan paling banyak dibaca mengambil sikap tidak menerbitkan berita yang bisa memancing konflik di masyarakat. ‘’Kecuali memang itu menjadi keputusan dan ditetapkan oleh Mendagri, baru kita akan beritakan dan itu sifatnya final,’’ ungkap dia.

Selain permasalahan lima desa di Kampar-Rohul, juga dibahas seputar program prioritas pemerintah daerah seperti pembangunan jembatan Dumai-Melaka, rail way Sumatera juga permasalahan kawasan hutan juga tapal batas antar Provinsi Riau-Sumut.(bud)

Jun 28, 2010

Jawa bagian Selatan Tertinggal dari Pantura

Senin, 28 Juni 2010 , 04:47:00

JAKARTA - Pembangunan kabupaten-kabupaten di Jawa bagian selatan masih tertinggal dibandingkan kawasan pantai utara. Untuk itu para pejabat Bappeda di daerah Jawa bagian selatan (Jasel) akan dikumpulkan di Jogjakarta hari ini (28/6), untuk membahas dan memfokuskan rencana pembangunan masing-masing.

"Wilayah Jasel yang terbentang dari Pandelang (Banten) sampai Banyuwangi (Jawa Timur) selama ini relatif tertinggal dari segi infrastruktur. Misalnya saja, jalan antar kabupaten di Jasel ada yang terputus atau dalam keadaan kurang memadai," kata staf khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Wanggai dalam siaran persnya kemarin (27/6).

Selain tertinggal di bidang infrastruktur, wilayah Jawa bagian selatan juga belum maksimal dalam mengelola sumber daya alam. Pembangunan sumber daya manusia di wilayah tersebut juga masih lambat. Hal itu terlihat dari indeks pembangunan manusia yang masih di bawah rata-rata kawasan Jawa bagian utara.

Padahal, menurut Velix, wilayah Jawa bagian Selatan memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Seperti, pertanian, perikanan, dan pariwisata. Menurut Velix, kawasan selatan Jawa perlu memiliki rencana pembangunan yang terpadu di semua sektor. "Harus ada sinergi antar provinsi dan antar kabupaten, sehingga pembangunan dapat berjalan efektif dan efisien," katanya.

Velix mengatakan, kawasan Jasel perlu memiliki rencana pembangunan yang terpadu di semua sektor. Juga, perlu ada sinergi antarprovinsi dan antarkabupaten. Sehingga, pembangunan dapat berjalan efektif dan efisien.

Pemerintah saat ini tengah mencari model pembangunan yang ideal bagi kawasan tersebut. "Kami masih terus menyempurnakannya, dengan meminta masukan dari pemangku kepentingan di wilayah Jasel," kata Velix. Kawasan Jawa bagian selatan saat ini didiami sekitar 27 juta penduduk yang tersebar di 22 kabupaten. (sof)

Jasel Perlu Rencana Pembangunan Terpadu


2010-06-28 12:31:22

Politikindonesia - Kawasan Jawa Selatan (Jasel) memiliki potensi yang tidak kalah dengan kawasan Pantura. Karena itu, kawasan Jasel perlu memiliki rencana pembangunan terpadu dari semua sektor untuk mengejar ketertinggalan mereka.

Demikian agenda pembicaraan Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah (SKP Bangda dan Otda) Velix Wanggai saat bertemu Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Jogjakarta dan GRAy Koes Moertiyah di Keraton Surakarta, kemarin.

Pertemuan itu memang digelar mengagendakan pembahasan rencana pembangunan masing-masing Provinsi untuk kawasan Jawa Selatan (Jasel). Kawasan itu, selama ini dinilai tertinggal dibandingan kawasan pantai utara (Pantura).

"Pengaruh sosio-kultural dua keraton tersebut di kabupaten-kabupaten Jasel yang masuk Provinsi Jawa Tengah, DIY dan sebagian Jawa Timur, masih terasa dominan. Karena itu, kami meminta pandangan-pandangan Keraton sebagai masukan penting untuk mengembangkan Jasel," kata Velix Wanggai kepada politikindonesia.com, Senin (28/06).

Menurut Velix, harus ada sinergi antarprovinsi dan antarkabupaten, sehingga pembangunan dapat berjalan efektif dan efisien. Forum pertemuan Bappeda se-Jawa diharapkan dapat menelurkan kesepakatan-kesepakatan mengenai sinergi antardaerah, serta pembentukan Pokja (Kelompok Kerja) yang akan mengawal percepatan pembangunan kawasan Jasel.

"Terkait dengan model pembangunan ideal bagi Jawa Selatan, kami masih terus menyempurnakannya, dengan meminta masukan dari pemangku kepentingan (stakeholders) di wilayah Jasel," tandas Velix.

Bertemu Bappeda

Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah (SKP Bangda dan Otda) Velix Wanggai mengumpulkan para pejabat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi se-Jawa di Istana Presiden Jogjakarta, Senin (28/06).

Pertemuan mengagendakan pembahasan rencana pembangunan masing-masing Provinsi kawasan Jawa Selatan yang selama ini dinilai tertinggal dibandingan kawasan pantai utara Jawa. Velix menggelar pertemuan menindaklanjuti arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kawasan Jasel didiami sekitar 27 juta penduduk, yang tersebar di 22 kabupaten. Banyak potensi sumberdaya alam di wilayah ini belum tergarap dengan baik karena persoalan ketersediaan infrastruktur dan kesiapan sumberdaya manusia.

Wilayah Jasel terbentang dari Pandelang (Banten) sampai Banyuwangi (Jawa Timur) selama ini relatif tertinggal dari segi infrastruktur. Misalnya saja, jalan antar kabupaten di Jasel ada yang terputus atau dalam keadaan kurang memadai.

Kesiapan sumberdaya manusia di kabupaten-kabupaten itu, yang dicerminkan dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), juga masih di bawah rata-rata IPM di kabupaten-kabupaten Jawa bagian utara. Padahal, wilayah Jasel memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan kompetitif, seperti pertanian, perikanan dan pariwisata.

Kawasan Jasel dinilai perlu memiliki rencana pembangunan yang terpadu dari semua sektor. Harus ada sinergi antarprovinsi dan antarkabupaten, sehingga pembangunan dapat berjalan efektif dan efisien. Forum pertemuan Bappeda se-Jawa diharapkan dapat menelurkan kesepakatan-kesepakatan mengenai sinergi antardaerah, serta pembentukan Pokja (Kelompok Kerja) yang akan mengawal percepatan pembangunan kawasan Jasel.
(aan/na)

Staf Ahli Bapennas: Ibu kota direncanakan pindah pada semester I 2024

  Selasa, 21 Desember 2021 17:32 WIB   Tangkapan layar - Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Velix Vernando ...