Apr 6, 2015

Mengawal 10 Inisiatif Baru Jokowi untuk Papua

Jokowi di Tanah Papua. Foto: Ist 
 
Penulis : Yermias Degei | Minggu, 05 April 2015 21:56



Jakarta, MAJALAH SELANGKAH --
Perencana pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Velix Wanggai dalam keterangan tertulisnya yang diterima majalahselangkah.com pada awal tahun 2015 lalu memaparkan 10 inisiatif baru yang mulai terlihat Presiden Joko Widodo untuk Papua.

Kata Velix, 10 inisiatif baru Jokowi  ini mulai terlihat selama kunjungan ke Jayapura, Wamena, Sorong, dan Biak Numfor.

Pertama, kata Wanggai, Presiden Joko Widodo memilih pendekatan dialog guna mengurai persoalan dan merumuskan solusi alternatif, serta membangun rasa kepercayaan. Presiden menyatakan bahwa rakyat Papua butuh didengar dan diajak bicara perihal apa yang diinginkan. Kepercayaan menjadi fondasi penting.

Langkah yang perlu disamakan antara Jakarta dan Papua, kata dia, persepsi atas format dialog, agenda, peserta, proses tahapan dialog dan target akhir dialog. Dengan demikian, ditemui pemahaman yang sama perihal gagasan Dialog Jakarta-Papua ini (baca: Jokowi Jangan Salah Artikan Dialog Jakarta-Papua).

Kedua,
Presiden Joko Widodo tetap menjalankan kebijakan yang pernah diletakkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengedepankan pendekatan kesejahteraan ketimbang pendekatan keamanan di dalam mengelola Papua. Integrasi nasional dan keutuhan NKRI adalah harga mati, namun dibangun di atas fondasi kesejahteraan, keadilan dan tatatan hukum yang menghargai konteks sosial budaya.

Ketiga, perbatasan antara Indonesia dengan negara-negara sahabat menjadi perhatian penting dari Presiden Joko Widodo. Presiden ingin menjadikan perbatasan menjadi beranda depan Indonesia di hadapan negara-negara di kawasan Pasifik.

Keempat,
Presiden Joko Widodo menginginkan kekayaan sumberdaya alam di Tanah Papua dinikmati oleh rakyat secara adil dan proporsional. Hal ini sejalan usulan Gubernur Papua yang mengharapkan adanya renegosiasi kontrak karya yang tidak adil dan pentingnya keikutsertaan Pemda dan rakyat Papua di dalam pengelolaan sumber daya alam.

Kelima, memecahkan persoalan kemahalan harga dengan kebijakan Tol Laut dengan menetapkan sejumlah titik pelabuhan sebagai simpul distribusi logistik di Tanah Papua.

Keeenam, untuk menggerakan ekonomi kawasan Timur Indonesia, Presiden Joko Widodo melakukan terobosan pembangunan infrastruktur strategis seperti re-aktivasi Bandara Frans Kaisepo sebagai jalur penerbangan internasional, kebijakan trans-kereta api Papua, pembangunan jembatan Holtekamp Jayapura sebagai landmark Indonesia di kawasan Pasifik maupun percepatan infrastruktur dasar di kawasan terisolir.

Ketujuh, kebijakan rehabilitasi pasar tradisional sebagai media ekonomi rakyat, sekaligus media pembangunan integrasi sosial dalam masyarakat yang majemuk. Untuk itu, Presiden membangun pasar tradisional di 4 simpul kawasan di Papua. Tidak hanya pasar, namun perhatian ditujukan ke penguatan pedagang-pedagang lokal asli Papua untuk berkembang.

Kedelapan, Presiden menaruh perhatian ke peningkatan pelayanan dasar rakyat baik pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih, dan transportasi lokal.

Kesembilan, Presiden Joko Widodo menaruh perhatian ke pelaksanaan otonomi khusus Papua sebagai bagian dari kebijakan desentralisasi asimetris di tanah air. Kata dia, Pelaksanaan Otsus ini sesuai dengan aspirasi Papua yang menginginkan rekonstruksi atau revisi UU 21/2001 Otsus Papua, yang dikenal sebagai Otsus Plus.

Kesepuluh, Bappenas sedang menyiapkan bab khusus perihal percepatan pembangunan Papua, baik dimensi kewilayahan yang berbasis wilayah adat, dimensi sektoral, dan dimensi sosial di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019.

Diketahui, Velix Wanggai lahir pada 16 Februari 1962 di Jayapura, Papua, putra dari Sofyan Wanggai dan Ita Nurlita. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Herwin Meiliantina dan telah dikaruniai empat orang anak. Ia melalui masa kecil sampai tamat sekolah menengah atas di Jayapura.

Setamat dari SMA Negeri 2 Jayapura pada tahun 1991, Velix ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Gadjah Mada sampai mendapatkan gelar sarjana (S1) di bidang Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada tahun 1996. Ia mendapatkan gelar master (S2) dari Flinders University, Australia dengan tesis "The Politics of Formulating Regional Development Policy: The Case of Papua, Indonesia, 1998 - 2006". Sedangkan gelar doktor (S3) ia dapatkan di Australian National University.
Ia resmi diangkat menjadi Staf Khusus Presiden pada 20 November 2009. Ia dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi staf khusus yang bertugas membantu memberi masukan pada presiden tentang hal-hal yang berhubungan dengan pembangunan daerah dan otonomi daerah di Indonesia.

Sebelumnya, Velix berkarier sebagai Staf Perencana pada Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (Yermias Degei/MS)

Mar 29, 2015

Membangun Papua, Bappenas Terapkan Pendekatan Sosial Budaya

Sabtu, 28/03/2015 06:29 WIB

Mega Putra Ratya - detikNews
Membangun Papua, Bappenas Terapkan Pendekatan Sosial Budaya 
 
Jakarta - Pendekatan sosial budaya menjadi faktor terpenting di dalam desain pembangunan wilayah Papua. Kearifan lokal dan karakteristik unik sosial budaya yang berkembang di Tanah Papua dipandang sebagai modal sosial, sekaligus modal kultural dan modal spritual dalam pembangunan.

"Realitas ini diakomodasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam merancang pembangunan kewilayahan Pulau Papua dalam 5 tahun ke depan, 2015-2019," ujar Perencana Bappenas Velix Wanggai dalam acara Temu Kawasan Percepatan Pembangunan Wilayah Adat Mee Pago, di Timika seperti dikutip dari rilis yang diterima, Sabtu (28/3/2015).

Sebagai langkah terobosan yang berbasis sosial budaya, Bappenas dan Pemda Papua merumuskan pendekatan pembangunan kawasan strategis berbasis 5 wilayah adat atau budaya. Kelima wilayah budaya itu adalah Kawasan Saereri yang mencakup kabupaten-kabupaten di Teluk Cenderawasih, Kawasan Mamberamo Tabi (Mamta) meliputi pantai utara Papua, dan Kawasan La Pago mencakup wilayah Pegunungan Tengah sisi Timur. Demikian pula, Kawasan Animha di pantai Selatan Papua, dan Kawasan Mee Pago-Bomberai di Pegunungan Tengah sisi Barat dan Mimika.

"Terobosan baru ini dijalankan oleh Menteri Bappenas, Andrinof Chaniago sejak ke Papua pada akhir November 2014 lalu. Bappenas dorong tumbuhnya komoditas unggulan lokal yang ada di masing-masing Kawasan Adat, termasuk hilirisasi industri kecil, menengah dan besar.
Bappenas berharap pendekatan kesatuan adat ini membuat arah program lebih terfokus, terarah, dan terintegrasi baik pendekatan kawasan ekonomi, infrastruktur terpadu, dukungan SDM dan regulasi," tutur mantan Staf Khusus Presiden SBY ini.

Sedangkan di Provinsi Papua Barat, Bappenas menetapkan pengembangan kawasan-kawasan industri petrokimia, migas dan pupuk di Bintuni, kawasan pertanian, pengembangan pala Fakfak, dan peternakan sapi pola ranch Bomberai, Fakfak dan Teluk Arguni. Termasuk pengembangan kawasan wisata bahari terpadu di Raja Ampat dan kawasan wisata religi Mansinam, sebagai tempat pertama masuknya Injil di Tanah Papua.

Dalam konteks pendekatan adat ini, menjelaskan bahwa Bappenas mendorong pelibatan desa/kampung dan warga kampung pemilik tanah adat sebagai pemegang saham (shareholdings) dalam pelaksanaan program-program investasi. Oleh karena itu, Bappenas telah menganggap penting pemetaaan dan penegasan batas (deliniasi) hak ulayat khususnya di kawasan-kawasan strategis sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Setelah itu, akan difasilitasi terbitnya sertifikasi hak ulayat. Harapannya, masyarakat adat ikutserta aktif dalam proses investasi di Papua.

"Mereka tidak menjadi penonton, tersisih, dan tergilas dari proses ekploitasi sumber daya alam di tanah mereka sendiri. Karena itu, diarahkan fungsi kawasan hutan memhormati keberadaan Kampung Masyarakat Adat" tegas Velix Wanggai.

Sejalan dengan penguatan SDM masyarakat lokal, Bappenas dalam 5 tahun kedepan membangun dan memperkuat Balai Latihan Kerja dan Kewirausahaan di 5 titik Kawasan Adat, pembangunan politeknik di 5 Kawasan Adat, dan pola sekolah asrama dan sekolah kecil untuk melayani daerah-daerah terpencil. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Bappenas mendorong Kementerian untuk meningkatkan pola-pola pe dampingan yang intensif dalam usaha ekonomi rakyat Papua.

"Disinilah pentingnya, penerapan regulasi insentif fiskal yang sesuai dengan karakteristik wilayah, dan format kebijakan anggaran yang sesuai dengan semangat desentralisasi asimetrik atau Otsus Papua," tutup Velix.

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(mpr/fiq)

Jan 21, 2015

DPD Dorong RUU Otsus Papua Masuk Prolegnas

Kamis, 22/01/2015 03:26 WIB

Hardani Triyoga - detikNews
 
Gubernur Papua dan Ketua DPD 
 
Jakarta - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman menyatakan pihaknya akan mendorong usulan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Otonomi Khusus Papua sebagai agenda prioritas untuk masuk Prolegnas.

"DPD RI akan menjadikan aspirasi ini sebagai agenda prioritas. DPD akan bergerak melalui alat-alat kelengkapan untuk mendorong usulan RUU Otonomi Khusus Pemerintahan Tanah Papua," kata Irman dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/1/2015).

Irman menambahkan, DPD sudah memperjuangkan aspirasi otonomi khusus Papua ini sejak beberapa waktu yang lalu. Hal ini dilakukan saat DPD melakukan rapat kerja dengan menteri ataupun saat rapat konsultasi bersama ketua-ketua lembaga serta Presiden.

Menurutnya, dalam waktu dekat ini upaya yang bakal dilakukan DPD adalah dengan melakukan rapat konsultasi dengan DPR.

"Saya berharap bentuk kepedulian terhadap tanah Papua bukan hanya dalam bentuk pemberian dana melalui dana otonomi khusus. Namun juga perhatian dalam aspek lainnya, misalnya pendidikan, kesehatan, kehidupan sosial dan berbagai aspek lainnya untuk kesejahteraan masyarakat Papua," sebut senator asal Sumatera Barat itu.

Adapun Ketua Komite II DPD RI, Parlindungan Purba, menyebut bahwa DPD RI bakal membentuk Panita Kerja (Panja) untuk membahas pembangunan infrastruktur di tanah Papua.

"Dengan Panja ini diharapkan dapat membantu mempercepat perjuangan rakyat Papua untuk meraih otonomi khusus dan kesejahteraan di tanah Papua," sebutnya.

Sebelumnya, Ketua DPD Irman Gusman pada Selasa (20/1), menerima kedatangan Gubernur Papua Lukas Enembe dan para delegasi dari Provinsi Papua terkait aspirasi perlunya revisi Undang-Undang No.21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.

Dalam pertemuan tersebut Ketua DPD RI Irman Gusman didampingi Ketua Komite II DPD RI, Parlindungan Purba, Wakil Ketua Panita Perancang Undang-Undang (PPUU) DPD RI Muhammad Afnan Hadi Kusumo, dan sejumlah Senator DPD RI dari provinsi Papua dan Papua Barat.

Staf Ahli Bapennas: Ibu kota direncanakan pindah pada semester I 2024

  Selasa, 21 Desember 2021 17:32 WIB   Tangkapan layar - Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Velix Vernando ...