Dec 6, 2012

Kesetiakawanan, Demokrasi, dan Perdamaian Dunia

galeri foto
| Kamis, 6 Dec 2012
Budi Winarno

Oleh Velix Wanggai
 


Beberapa tahun terakhir, Indonesia terus menyuarakan pesan-pesan perdamaian, demokrasi dan hak-hak asasi manusia universal di pelbagai kesempatan dan fora internasional antara lain di Bali Democracy Forum V (BDF V) pada awal Oktober 2012 lalu. Kini Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang berhasil melewati transisi demokrasi dan sedang mengonsolidasi tatanan demokrasinya.

Demokratisasi yang berjalan selama lima belas tahun ini, adalah buah dari pengalaman sejarah panjang bangsa Indonesia. Dijajah selama tiga abad lebih kemudian meraih kemerdekaan tetapi kemudian terkungkung dalam rezim politik otoritarian yang sangat panjang dan baru meraih kebangsaan yang demokratis pascagerakan reformasi yang melanda Indonesia tahun 1998.

Keberhasilan Indonesia membentuk tatanan pemerintahan dan kehidupan sosial yang demokratis itu tidak terlepas dari kesadaran kolektif bangsa Indonesia untuk bersatu di dalam keragaman. Di era kebebasan demokrasi, sekat-sekat kultural yang tercipta sejak zaman koloniali hingga rezim politik otoriter berhasil disingkirkan. Kebebasan pers dan akademik berkembang pesat.

Aspirasi dan kelembagaan politik semakin konfiguratif. Hak-hak asasi manusia maupun toleransi pada keragaman terapresiasi. Presiden Mesir Muhammad Mursi ketika menerima Ketua DPR RI Marzuki Alie hari Senin (3/12/2012) di Kairo memuji pengalaman Indonesia ini dan akan menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi Mesir dalam menjalani masa-masa transisi menuju demokrasi.

Di balik keberhasilan itu, kesetiakawanan sosial merupakan modal utama bangsa Indonesia dalam membangun demokrasi. Ungkapan yang sering kita dengar, "kita semua bersaudara", adalah klaim sosial bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah ikatan keluarga besar. Berbeda secara suku, agama dan ras tetapi kita tetap satu, merupakan pesan dari seloka Bhinneka Tunggal Ika. Pesan ini perlu direvitalisasi dalam bentuk materi keilmuan di semua level pendidikan formal maupun menjadi best practice perilaku politik dan praktek demokrasi.

Hidup bersama dalam keragaman komunitas sosial serta saling memahami dan menghargai nilai-nilai yang ada pada komunitas lainnya adalah kebutuhan dunia dewasa ini. Justru kita tidak akan berkembang maju, apabila kita hanya berkiblat pada nilai dan sistem hidup yang rigit di dalam komunitas kita saja dan tidak perduli dengan nilai dan sistem hidup yang dimiliki komunitas lainnya.
Kehidupan yang rukun dan damai dari sebuah komunitas yang beragam kultur menjadi agenda pembahasan dari World Peace Forum IV (WPF IV) yang mengambil tema "Consolidating Multicultural Democracy", sebuah tema yang relevan bagi kondisi dunia dewasa ini.

Demikian penilaian Presiden SBY dalam sambutannya di hadapan peserta WPF IV yang diundang ke Istana Bogor hari minggu lalu. Acara ini digagas PP. Muhammadiyah bekerja sama dengan Cheng Ho Multiculture Trust Malaysia dan Centre for Dialog and Cooperation among Civilization (CDCC).
Indonesia harus menjadi pelopor dalam menyuarakan pesan perdamaian, toleransi dan demokrasi di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, karena pada dasarnya Indonesia merupakan negeri multikultur dan harus menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain dalam kehidupan demokrasi.

Presiden SBY pun mengakui bahwa ketika menghadiri KTT ASEAN baru-baru ini di Kamboja yang dilanjutkan dengan KTT D8 di Pakistan, beliau dan para delegasi menjadikan gejolak yang terjadi di Myanmar, Pakistan, Jalur Gaza, Syiria, Irak, Afghanistan dan negara-negara lainnya sebagai pelajaran berharga. Menurut Presiden, ada kesadaran baru di dunia bahwa keamanan dan perdamaian di dunia dapat tercipta apabila semua bangsa memandang penting kehidupan demokrasi multikultural.

Indonesia harus menjadi pelopor dalam menyuarakan pesan perdamaian, toleransi dan demokrasi di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, karena pada dasarnya Indonesia merupakan negeri multikultur dan harus menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain dalam kehidupan demokrasi.
Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY, senantiasa konsisten menyuarakan pesan-pesan perdamaian ini.

Simak saja sewaktu melakukan kuliah umum berjudul Towards Harmony Among Civilization di John F. Kennedy School of Government tahun 2009 silam, Presiden SBY menyatakan, keragaman masyarakat dan kebebasan beragama berdampak positif pada komunitas global. Konflik dan kebencian mungkin saja masih terus ada tapi dengan membangun kehidupan yang interaktif antara peradaban, agama dan budaya, tatanan dunia yang damai dan adil bisa diwujudkan

No comments:

Staf Ahli Bapennas: Ibu kota direncanakan pindah pada semester I 2024

  Selasa, 21 Desember 2021 17:32 WIB   Tangkapan layar - Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Velix Vernando ...