Apr 10, 2013

Kasih Menembus Perbedaan

 
Jurnal Nasional | Kamis, 11 Apr 2013

Velix Wanggai
 
Kisah perjalanan demokrasi di Papua memberi sejuta cerita. Hari Selasa, 9 April 2013, kami berkesempatan mengikuti acara pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua masa bhakti 2013-2018 di Stadion Mandala Jayapura. Stadion Mandala yang selama ini dikenal melahirkan para talenta muda sepak bola Papua, kini mencatat sejarah baru menjadi tempat dimana dilangsungkannya Sidang Paripurna Istimewa Terbuka Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP). Sebuah peristiwa yang baru pertama kali terjadi di Republik ini, dimana pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur berlangsung di lapangan terbuka.

Pilkada yang aman, damai dan demokratis telah berhasil memilih pemimpin baru Papua dengan tingkat keterpilihan 52 persen dalam satu putaran. Sebuah angka kemenangan yang fantastis dan legitimate mengungguli lima kandidat lainnya. Pilkada ini tercatat oleh Mendagri sebagai Pilkada yang paling aman dan demokratis di awal tahun 2013. Banyaknya kandidat yang bertarung serta konfigurasi dan dukungan politik yang beragam membuat pesta demokrasi rakyat Papua yang berlangsung pada bulan Februari 2013 lalu itu benar-benar semarak.

Papua memang penuh warna. Masyarakat Papua terdiri dari beragam suku bangsa, etnik, bahasa dan agama, namun rakyat Papua telah menunjukkan etika dan budaya politik yang damai dan penuh kesantunan. Proses pemilukada yang damai ini memberikan contoh kepada daerah lain di Indonesia, bahwa rakyat Papua semakin matang di dalam berdemokrasi.

Disaksikan sekitar dua puluh ribu rakyat yang memadati Stadion Mandala, Gubernur terpilih Lukas Enembe berpidato menyampaikan tekad membangun peradaban baru Papua. Papua harus bangkit, mandiri dan sejahtera dan karena itu Papua harus terbuka bagi siapa saja. Bagi Gubernur Enembe, Papua ke depan harus berbeda dengan Papua masa lalu dan masa kini. Jika kemarin adalah masa berucap dan berjanji, maka kini saatnya bertindak dan bekerja.

Kita menyadari bahwa Provinsi Papua (termasuk Provinsi Papua Barat) masih mengalami ketertinggalan di hampir semua lini kehidupan. Bertahun-tahun pelaksananaan pembangunan masih belum mampu menyejajarkan wilayah ini dengan wilayah provinsi lain di Indonesia. Tingkat isolasi wilayah yang tinggi mengakibatkan kemahalan harga-harga konsumsi pun semakin tak terbendung. Bayangkan saja, harga semen di wilayah pedalaman bisa mencapai dua juta per zak maupun harga premium yang bisa mencapai dua ratus ribu per liter.

Keadilan pembangunan, kebijakan yang memihak, kebersamaan maupun perasaan saling memiliki terhadap Tanah Papua harusnya terus menjadi konsen semua komponen bangsa ini. Tanah Papua adalah masa depan Republik Indonesia. Potensi sumberdaya alam yang kaya jika dikelola secara baik, disamping memberikan pendapatan bagi negara, adalah juga membawa rakyat di wilayah paling timur Nusantara ini keluar dari jeratan dan jeritan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketertinggalan, keterisolasian dan ketidakadilan.

Dari tatapan mata dan raut wajah ribuan rakyat yang hadir di Stadion Mandala pada hari Selasa lalu, kami menangkap sinyal optimisme akan terbitnya fajar peradaban baru di ufuk timur. Rakyat Papua membutuhkan sentuhan kasih yang tulus dari semua stakeholders pembangunan di negeri ini. Dan Presiden SBY telah memulai karya kemanusiaannya bagi Papua dengan mengeluarkan kebijakan New Deal for Papua pada tahun 2007.

Perhatian Presiden SBY ini telah mendorong kementerian/lembaga di Pusat untuk memprioritaskan skema pembiayaan sektoralnya bagi Tanah Papua. Harapan kita, kementerian/lembaga dan BUMN di Pusat hendaknya bersinergi dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Tanah Papua. Tidak saja di level perencanaan, tetapi juga pelaksanaan dan pengawasan. Tebar kasih dan kebijaksanaan kita untuk saudara-saudara kita di Tanah Papua harus terus mengalir meskipun kepemimpinan nasional telah berganti.

Kembali ke Mandala, ratusan umbul-umbul dan kibaran bendera merah putih menghiasi panggung dan sepanjang jalan menuju lokasi pelantikan Gubernur Papua. Gema lagu Indonesia Raya mengawali Sidang Paripurna Istimewa Terbuka DPRP di Stadion Mandala yang berlangsung hikmat itu. Rasa nasionalisme Indonesia tetap terpatri di hati sanubari rakyat Papua.

Rakyat Papua mencintai Indonesia yang berarti mencintai saudara-saudaranya di wilayah Indonesia lainnya. Kita harus saling kasih-mengasihi. Perbedaan geografis, suku, etnik, agama dan bahasa bisa teratasi apabila kita selalu mengasihi. Keragaman kita adalah rahmat Tuhan dan di dalam keragaman itu, kasih menembus perbedaan.

No comments:

Staf Ahli Bapennas: Ibu kota direncanakan pindah pada semester I 2024

  Selasa, 21 Desember 2021 17:32 WIB   Tangkapan layar - Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Velix Vernando ...