Mar 13, 2013

PERTEMUAN POLITIK

Prabowo Ingin Menjadi Pengganti Yudhoyono
Rabu, 13 Maret 2013 | 01:50 WIB - KOMPAS.com

Dibaca: 1313

Kedatangan Prabowo Subianto ke Istana Presiden, Senin (11/3), bukanlah peristiwa biasa. Selain kepada mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, rasa-rasanya hampir tidak pernah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyediakan waktu khusus bagi elite partai politik di kantornya.
Prabowo, pensiunan letnan jenderal, datang ke Istana sekitar pukul 15.00. Ditemani Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, ia melewati dua kali pemindai sinar-X sebelum masuk ke Kantor Presiden. Di tengah dinginnya udara ruang tunggu Kantor Presiden, Prabowo menunggu Yudhoyono yang belum selesai mengikuti sebuah acara di Istana Negara.

Pukul 15.25, puluhan wartawan berkumpul di depan pintu ruang pertemuan Kantor Presiden. ”Wartawan banyak sekali,” gurau Sekretaris Kabinet Dipo Alam yang berdiri mendampingi Presiden. Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi juga berdiri di dekat Presiden. Beberapa menit kemudian, Prabowo berjalan menuju ruang pertemuan di Kantor Presiden.
Yudhoyono dan Prabowo bersalaman di depan pintu. Nyala lampu kilat dan suara kamera tidak henti-hentinya mengiringi peristiwa itu. ”Ayo, silakan masuk,” ujar Yudhoyono, lulusan Akademi Militer 1973, menyilakan Prabowo untuk masuk. Setelah Yudhoyono berbasa-basi, wartawan dipersilakan keluar.

Pukul 17.05, Fadli, Sudi, dan Velix Wanggai (Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah) keluar dan duduk di ruang konferensi pers. Sekitar 15 menit kemudian, Prabowo keluar memberikan jumpa pers. Pertemuan Yudhoyono dan Prabowo memakan waktu lebih dari 1,5 jam. Pertemuan itu, kata Fadli, didahului undangan dari Presiden Yudhoyono. ”Undangan via Pak Sudi Silalahi ke saya,” katanya.

Dalam jumpa pers, Prabowo menceritakan, pertemuan membahas berbagai hal, mulai dari ekonomi, politik, hingga hubungan internasional. Ia menilai, manajemen pemerintahan di bidang ekonomi cukup baik. Ia mengaku sebelum ini pertemuan dengan Presiden telah beberapa kali dilakukan.
Komunikasi dengan pemimpin negara, menurut Prabowo, sangat diperlukan. Pertemuan semacam itu juga menandai tingkat kehidupan demokrasi yang baik dan matang. ”Anda tahu bahwa saya orang yang sering memberikan kritik keras terhadap kebijakan-kebijakan tertentu dari pemerintah,” kata Prabowo, lulusan Akademi Militer 1974.

Saat ditanya apakah undangan Presiden kepada Prabowo menandakan dirinya didukung sebagai calon presiden tahun 2014, Prabowo menjawab dengan lugas. ”Mudah-mudahan. Kalau saya, sih, ingin menjadi successor (pengganti),” ujar Prabowo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.
Fadli mengatakan, pertemuan itu secara implisit membahas kemungkinan dipasangkannya Partai Gerindra dan Partai Demokrat dalam Pemilu 2014. Namun, menurut Fadli, ”Masih terlalu pagi, tiap-tiap partai akan konsentrasi pada pemilu legislatif dulu.”

”Komunikasi SBY dan Prabowo itu upaya SBY untuk menjaga keseimbangan politik. Ternyata Gerindra yang di luar Setgab pun bisa diajak bicara,” kata politisi PPP, Romahurmuziy. Menurut dia, pertemuan dengan Prabowo itu menunjukkan Yudhoyono ingin memastikan calon presiden mendatang dia kenal baik. ”Tapi, belum tentu sebagai dukungan kepada Prabowo. Jadi kita jangan salah membaca situasi,” kata Romahurmuziy. (ATO/EDN/LOK)

No comments:

Staf Ahli Bapennas: Ibu kota direncanakan pindah pada semester I 2024

  Selasa, 21 Desember 2021 17:32 WIB   Tangkapan layar - Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Velix Vernando ...