Jul 24, 2013

Perjalanan Sebuah Bangsa

 galeri foto
Jurnal Nasional | Kamis, 25 Jul 2013
Ahmad Nurullah
Velix Wanggai 
Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah

HARI demi hari telah kita lalui selama lima belas tahun terakhir. Sejak Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menoreh jejak langkah yang berharga bagi bangsa ini. Banyak pelajaran yang kita peroleh untuk membangun Indonesia dalam semua aspek kehidupan. Untuk itu, adalah sesuatu yang wajar untuk melakukan refleksi atas format pembangunan bangsa yang terbentuk dalam lima belas tahun terakhir ini.

Selasa sore, 16 Juli 2013--ketika berbuka puasa dengan para pimpinan media massa di Istana Negara--Presiden SBY menyampaikan lima butir refleksi pemikiran tentang bagaimana arah kehidupan kebangsaan kita di masa depan. Refleksi pemikiran tersebut disampaikan Presiden SBY dengan cara menggugah pemikiran (critical questions) bagi para hadirin yang menjejali ruang serbaguna Istana Presiden sore itu.

Presiden menyampaikan, apakah sistem ketatanegaraan dan model distribusi kekuasaan kita sekarang ini sudah tepat atau tidak? apakah demokrasi, stabilitas dan pembangunan bisa berjalan beriringan? bagaimana hubungan negara, pemerintah dan masyarakat? jalan apa yang mesti kita tempuh untuk menjadi negara maju? dan bagaimana semua komponen bangsa berbagi peran dan tanggungjawab?

Reformasi nasional yang terjadi pada tahun 1998 telah sukses menghantarkan bangsa Indonesia melewati sebuah proses transisi menuju demokrasi yang kini menuju fase konsolidasi. Justru yang menjadi pekerjaan rumah kita adalah mewujudkan sistem politik dan demokrasi yang melembaga dan ajeg sepanjang zaman.

Sebenarnya, usia lima belas tahun perjalanan reformasi politik di Indonesia merupakan kesempatan emas untuk mempersiapkan pelembagaan sistem politik dan demokrasi kita. Namun kenyataannya, lima belas tahun itu kita masih berkutat pada eksplorasi gagasan dan silang-sengkarut perdebatan yang tidak perlu. Kita seolah-olah puas dengan apa yang dicapai pada limabelas tahun lalu itu. Padahal, meminjam Presiden SBY, reformasi atau transformasi merupakan proses yang terus berjalan. It‘s a process, not an event.

Tidak banyak negara yang menganut sistem paduan seperti kita. Ada negara federal, ada negera konfederasi dan ada negara kesatuan. Kita menganut yang terakhir tetapi kita juga menjalankan otonomi daerah. Apakah sudah tepat hubungan pusat dengan daerah? Distribusi kewenangan, distribusi kekuasaan di tingkat pusat, tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten dan kota.

Di tingkat negara, tidak semua urusan harus di-takeover Presiden. Ada sejumlah kekuasaan dan kewenangan yang harus diperankan oleh komponen negara yang lain. Demikian pula jika di era otoritarian, eksekutif lebih mendominasi, diganti pada era transisi legislatif mendominasi. Namun apakah di era konsolidasi demokrasi ini, mekanisme check and balances yang kita bangun antara eksekutif, legislatif, yudikatif sudah berjalan seimbang atau belum? Sebuah pertanyaan kritis Presiden SBY yang patut menjadi renungan bersama.

Reformasi politik dengan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah pun menyisakan masalah pada aspek integritas bangsa. Masing-masing daerah menunjukkan kemampuan kompetitif dan rivalitasnya, sehingga komunitas kita di pelbagai daerah cenderung berpikir sebatas local boundaries-nya saja dan seolah tidak perduli terhadap nasib saudara-saudara sebangsa di daerah lainnya.

Perasaan bersama sebagai bangsa agak mengalami penurunan drastis. Moralitas kebangsaan pun mengalami kemunduran, sementara di sisi lain, kita membutuhkan persatuan kebangsaan itu sebagai modal dasar untuk menjadi bangsa yang maju. Dalam pikiran Presiden SBY, kita butuh road to developed nation, dimana persoalan character building menjadi isu sentral bagi sebuah bangsa yang ingin menjadi negara yang maju.

Dari semua itu, menurut Presiden SBY, kita butuh kebersamaan, kita butuh responsibility sharing. Bagaimana kita berbagi peran, berbagi tanggungjawab dan kemudian bekerja bersama untuk menggapai kemajuan di masa depan.

galeri foto

No comments:

Staf Ahli Bapennas: Ibu kota direncanakan pindah pada semester I 2024

  Selasa, 21 Desember 2021 17:32 WIB   Tangkapan layar - Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Velix Vernando ...